Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلّٰهِ. الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ الْقُرْآنَ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِينُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الصَّادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِينُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, Islam, dan kesehatan, sehingga kita bisa berkumpul di rumah-Nya yang mulia ini. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswah hasanah kita, Nabi Muhammad SAW.
Manusia adalah pengisi sekaligus pelaku sejarah kehidupan. Kita hidup di masa kini, namun sejatinya kita sedang menyambung rantai kisah yang telah dimulai ribuan tahun lalu. Silih berganti manusia datang dan pergi hingga akhir masa yang dijanjikan. Al-Qur’an hadir bukan sekadar sebagai kitab hukum, melainkan sebagai “cermin sejarah”. Sejak awal, Al-Qur’an mengajak kita menoleh ke masa silam untuk mengambil pelajaran (ibrah). Masalah yang kita hadapi hari ini, sejatinya sudah pernah dihadapi oleh kaum-kaum terdahulu.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Pertanyaannya bagi kita adalah: sudahkah Al-Qur’an itu benar-benar meresap ke dalam jiwa kita, ataukah ia hanya sekadar bacaan di bibir saja? Untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk (hudan), setidaknya ada dua cara yang harus kita tempuh: Tartil dan Tadabbur.
Pertama, Tartil (Aspek Lahiriah). Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa membaca Al-Qur’an secara tartil—yakni pelan, jelas, dan sesuai kaidah tajwid—adalah sunnah yang mendatangkan manfaat besar. Allah SWT berfirman:
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan (tartil).” (QS. Al-Muzzammil: 4).
Secara lahiriah, tartil menjaga kita dari kesalahan makna. Namun lebih dari itu, tartil adalah pintu masuk bagi hati untuk bersiap menerima kalam Ilahi. Membaca dengan terburu-buru hanya akan membuat pikiran kita sibuk mengejar khatam, namun hati kita tertinggal di belakang.
Membaca Al-Qur’an secara tartil adalah perintah langsung dari Allah SWT. Dalam mengomentari ayat di atas, Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA menjelaskan bahwa tartil adalah: “Tajwidul huruf wa ma’rifatul wuquf”—membaguskan pelafalan huruf dan mengetahui kapan harus berhenti (waqaf). Mengapa Tartil begitu penting?
- Menghormati Kalamullah: Al-Qur’an adalah firman Sang Pencipta. Membacanya dengan tergesa-gesa seolah ingin cepat selesai adalah bentuk kurangnya adab. Tartil memberikan waktu bagi lisan untuk merasakan setiap makhraj dan bagi telinga untuk menyimak setiap pesan.
- Mencegah Kesalahan Makna: Bahasa Arab sangat sensitif. Perubahan panjang-pendek suara atau kesalahan makhraj huruf bisa mengubah makna pujian menjadi hinaan. Dengan tartil, kita menjaga kemurnian wahyu Allah.
- Memberi Ruang bagi Hati: Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyatakan bahwa membaca pelan (tartil) lebih memudahkan bagi hati untuk terpengaruh (ta’atstsur). Bagaimana mungkin hati bisa tergetar jika lisan kita berlari sekencang angin tanpa memedulikan apa yang dibaca?
Kedua, Tadabbur (Aspek Batiniah). Jika tartil adalah urusan lisan, maka tadabbur adalah urusan batin. Tadabbur berasal dari kata dubur yang berarti “belakang” atau “akhir”. Artinya, tadabbur adalah upaya melihat “apa yang ada di balik” sebuah ayat—apa konsekuensinya bagi hidup kita dan apa dampak akhirnya di akhirat kelak. Tadabbur bukan sekadar membaca terjemah, melainkan upaya mendalam untuk menyerap pelajaran dari setiap peristiwa.
Allah SWT menegur kita dalam firman-Nya:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)
Para ulama menjelaskan bahwa Tadabbur memiliki tiga tingkatan:
- Tafakkur (Berpikir): Memikirkan makna kata per kata. Mengapa Allah menyebut kisah Nabi Musa lebih banyak? Mengapa Allah bersumpah demi waktu Subuh? Di sini akal kita dilibatkan.
- Tadzakkur (Mengambil Pelajaran): Menarik relevansi ayat tersebut dengan hidup kita. Ketika membaca ayat tentang kaum ‘Ad yang binasa karena kesombongan teknologi dan bangunannya, kita bertanya pada diri sendiri: “Apakah kesuksesan duniaku hari ini membuatku sombong seperti mereka?”
- Al-Istijabah (Merespons): Inilah puncak tadabbur. Ketika Allah memerintahkan shalat, hati kita menjawab “Labbaik” (aku penuhi panggilan-Mu). Ketika Allah menceritakan indahnya surga, hati kita berdoa memohonnya. Ketika Allah memperingatkan tentang neraka, tubuh kita merinding ketakutan.
Jamaah yang Berbahagia,
Perbedaan besar antara kita dengan generasi Sahabat adalah pada sisi Tadabbur ini. Generasi Sahabat mungkin tidak mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari, tetapi mereka tidak akan melewati 10 ayat kecuali mereka telah memahami maknanya dan mengamalkan isinya.
Imam an-Nawawi mengisahkan dalam kitab Al-Adzkar, bagaimana sebagian sahabat Nabi menghabiskan sepanjang malam hanya untuk mengulang-ulang satu ayat saja. Mereka membacanya, menangisinya, merenungkannya, lalu membacanya kembali sampai fajar tiba. Banyak di antara mereka yang tubuhnya bergetar dan limbung bagai pepohonan diterpa angin saat membaca satu ayat saja. Mengapa? Karena bagi mereka, Al-Qur’an adalah Cermin Diri. Karena mereka menggunakan metode Tadabbur—menjadikan ayat tersebut sebagai cermin yang membedah kotoran-kotoran di dalam jiwa mereka.
Tadabbur menuntut kita untuk jujur. Saat kita membaca ayat: “Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menimbang),” tadabbur memaksa kita mengecek kembali dagangan kita, pekerjaan kita, dan kejujuran kita. Tanpa tadabbur, Al-Qur’an hanya akan menjadi tumpukan kertas, namun dengan tadabbur, Al-Qur’an akan menjadi kompas hidup yang paling akurat.
Imam Anas bin Malik pernah memberikan nasihat yang sangat tajam: “Banyak orang yang membaca Al-Qur’an, namun Al-Qur’an justru melaknatinya.”
Bagaimana mungkin hal itu terjadi? Ulama menjelaskan, hal itu terjadi ketika seseorang membaca ayat tentang larangan berbuat zalim, namun tangannya masih gemar menyakiti orang lain. Ketika ia membaca tentang ancaman bagi para pendusta, namun lisannya masih dihiasi kebohongan. Di saat itulah, ayat yang ia baca berubah menjadi saksi yang memberatkan dirinya di hadapan Allah SWT.
Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,
Inilah yang disebut dengan Kesadaran Qur’ani. Al-Qur’an tidak berorientasi membuat pembacanya lupa diri, apalagi merasa paling suci. Sifat Hudan (petunjuk) bekerja untuk menyadarkan kita tentang jati diri kita yang sebenarnya: makhluk yang lemah, sering lalai, dan penuh potensi bermaksiat.
Perhatikanlah kebiasaan para ulama terdahulu. Setiap kali sampai pada Ayat Rahmah (ayat tentang kasih sayang Allah dan surga), mereka berhenti dan berdoa dengan penuh harap: “Ya Allah, jadikanlah aku bagian dari hamba-Mu yang mendapatkan rahmat ini.” Namun, saat sampai pada Ayat Azab (ayat tentang siksa neraka), mereka menangis dan memohon perlindungan: “Ya Allah, selamatkanlah aku dari kehinaan ini.”
Interaksi seperti inilah yang membuat Al-Qur’an “hidup” dan “menubuh”. Jika kita membaca Al-Qur’an dengan kesadaran bahwa kita adalah hamba yang fakir akan belas kasih Allah, maka tidak akan ada celah bagi kesombongan di dalam hati. Kita tidak akan berani menghakimi orang lain, karena cermin Al-Qur’an lebih dulu memperlihatkan noda-noda di wajah kita sendiri.
Kabar baik tentang surga memang dijanjikan, namun surga bukanlah upah yang bisa kita paksa dari Allah. Ia adalah pemberian atas dasar rahmat-Nya. Maka, jadikanlah setiap huruf Al-Qur’an yang kita baca sebagai sarana untuk mengetuk pintu rahmat itu. Jangan biarkan Al-Qur’an hanya menjadi pajangan di lemari atau suara merdu di perlombaan, tapi jadikanlah ia kompas yang mengarahkan akhlak kita.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Marilah kita kembali menyadari bahwa sejarah terus berjalan. Kita adalah saksi zaman ini, dan kelak generasi setelah kita akan membaca kisah kita. Pertanyaannya, apakah kita akan meninggalkan jejak sebagai kaum yang menjunjung tinggi Al-Qur’an, atau kaum yang meninggalkan Al-Qur’an (mahjura)?
Semoga Allah SWT menganugerahkan kita kekuatan untuk senantiasa tartil dalam membaca dan istiqamah dalam mentadabburi ayat-ayat-Nya, sehingga kita dikumpulkan bersama golongan orang-orang yang mencintai dan dicintai Al-Qur’an.
بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ لَنَا فِي الدُّنْيَا قَرِينًا، وَفِي الْقَبْرِ مُؤْنِسًا، وَفِي الْقِيَامَةِ شَفِيعًا، وَعَلَى الصِّرَاطِ نُورًا، وَإِلَى الْجَنَّةِ رَفِيقًا، وَمِنَ النَّارِ سِتْرًا وَحِجَابًا.
اللّٰهُمَّ نَوِّرْ قُلُوبَنَا بِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ، وَزَيِّنْ أَخْلَاقَنَا بِزِيْنَةِ الْقُرْآنِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ بِشَفَاعَةِ الْقُرْآنِ.
اللّٰهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.



