Transformasi Syiar di Era AI: LD PWNU DIY Bekali Kader Dakwah Keterampilan Konten Digital Mutakhir

Rabu, 25 Februari 2026 | 18:04 WIB
Khoirul Imam
KHOIRUL IMAM Tim Redaksi

YOGYAKARTA—Ruang pertemuan The Forum Lantai 3, Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, menjadi saksi bisu upaya besar Lembaga Dakwah Pengurus Wilayah NahdlatulUlama (LD PWNU) D.I. Yogyakarta dalam menjemput masa depan syiar Islam. Pada Sabtu (14/02/2026), melalui agenda bertajuk “Pelatihan Dakwah Digital: Desain Visual, Manajemen Media Sosial, dan Produksi Konten Kreatif melalui AI”, para kader dakwah diajak untuk bertransformasi tanpa melupakan akar sejarah.

Suasana pembukaan menjadi sangat hidup saat Dr. Lutfi, yang hadir mewakili Ketua Pengurus PWNU D.I. Yogyakarta, berbagi refleksi historis yang mendalam. Beliau mengenang masa di mana dakwah masih bersifat sangat manual namun memiliki magnet yang luar biasa. Meski saat itu media sosial belum lahir, umat tetap berbondong-bondong memenuhi majelis pengajian. Satu pemandangan ikonik yang beliau ceritakan adalah perjuangan para jamaah dalam mendokumentasikan ilmu; mereka kerap meletakkan tape recorder (alat perekam kaset) tepat di depan pengeras suara (sound system) agar suara sang kiai tetap bisa didengarkan ulang di rumah. Nostalgia ini menjadi pengingat bahwa semangat menuntut ilmu tetap sama, meski alatnya terus berganti.

Melanjutkan pesan tersebut, Dr. Abdul Ghaffar, M.E., yang hadir mewakili Rektor UNU Yogyakarta, memberikan penekanan yang lebih strategis dan futuristik. Beliau menegaskan bahwa di era sekarang, penguasaan dakwah tidak bisa lagi hanya satu jalur. Menurutnya, kader NU harus menguasai dua lini sekaligus: dakwah konvensional yang menyentuh akar rumput, serta dakwah digital yang mampu menembus batas ruang dan waktu. Secara lugas, Dr. Ghofar mengingatkan bahwa media sosial saat ini masih banyak dikuasai oleh kelompok lain (minhum), sehingga menjadi kewajiban bagi kader Nahdliyin untuk merebut kembali ruang publik digital dengan konten-konten yang menyejukkan dan berkarakter Ahlussunnah wal Jamaah.

Semangat untuk “merebut ruang” tersebut kemudian dituangkan dalam sesi pelatihan intensif yang dipandu oleh para ahli. Nanang Nurochim membuka sesi pertama dengan membedah seni videografi, mengajarkan peserta bagaimana mengemas pesan dakwah ke dalam visual yang estetik namun tetap berbobot. Ia juga menekankan tentang pentingnya bermain dalam algoritma media sosial dan bagaimana menaklukkannya. 

Selanjutnya, Rahmad Kurniawan memandu peserta menjinakkan teknologi kecerdasan buatan (AI) melalui desain grafis, sebuah terobosan untuk memproduksi konten berkualitas tinggi secara cepat dan efisien. Tak hanya itu, ia pun menjelaskan secara detail tentang makna di balik pemilihan warna dan bentuk huruf (font), serta pengaturan dalam setiap desain grafis. 

Rangkaian materi ditutup secara komprehensif oleh Tajul Muluk, M.Ag., yang mengupas strategi dakwah kontemporer agar pesan Rahmatan lil ‘Alamin dapat diterima secara luas oleh generasi z dan milenial. Di samping tetap memperhatikan isi dan referensi yang tetap memiliki kekhasan pesantren yang berbasis kitab-kitab turos. 

Kegiatan yang berlangsung interaktif ini dikawal dengan apik oleh jajaran panitia dan koordinator lapangan seperti Ust. Rofiqi, Ust. Bram, Ust. Abdul Baseer, hingga Ust. ArisRisdiana. Seluruh rangkaian acara kemudian ditutup dengan doa oleh Ust. Khairul Imam, membawa harapan besar bahwa pasca-pelatihan ini, para kader tidak hanya sekadar menjadi penonton di media sosial, tetapi menjadi kreator konten yang mumpuni. LD PWNU DIY kini bersiap melahirkan gelombang baru pendakwah digital yang mampu menyatukan kemantapan literatur klasik dengan kecanggihan algoritma masa kini.